Pelaksanaan Transfer Embrio (TE)
  • 05
  • Desember

Pelaksanaan Transfer Embrio (TE)

  • Oleh Admin
  • Lainnya
  • Senin, 05 Desember 2022
  • 0

Transfer Embrio (TE) adalah merupakan bioteknologi reproduksi kedua setelah Insseminasi Buatan (IB). kegiatan TE dimulai dari produksi, distribusi/penyebaran, dan transfer embrio. Embrio sebagai hasil pembuahan sel telur yang unggul dan dibuahi dengan sperma dari pejantan yang juga memiliki mutu genetic unggul (Nurwidayati, 2011).

 

Menurut beberapa ahli, yang dimaksudkan dengan transfer embrio adalah suatu metode buatan dalam perkawinan dengan cara membentuk embrio dari seekor betina induk unggul, yang disebut donor, kemudian dipindahkan dan dicangkokkan kedalam saluran reproduksi induk betina lainnya dalam spesies yang sama, yang disebut resipien (Bedirian et al. 1977)

 

Melalui teknologi TE bukan hanya potensi pejantan saja yang dioptimalkan, melaikan potesi dari betina berkualitas unggul juga dapat dimanfaatkan secara optimal (Cunningham, 1989). Hasil dari betina unggul ini ternyata secara alamiah hanya menghasilkan satu atau dua bibit unggul dalam jangka waktu sembilan bulan kelahitan. Tetapi dengan teknik TE bisa menghasilkan lebih dari dua embrio yang di panen. Melalui teknik TE, betina unggul tidak perlu bunting tetapi hayan menghasilkan embrio – embrio yang selanjutnya untuk dititpkan pada resipien yang tidak harus genetic unggul tetapi mempunyai alat reproduksi yang normal hingga dapat memelihara anak sampai tahap patus (Mc Guirk, 1989)

 

Untuk melakukan transfer embrio (TE) diperlukan hewan betina donor yang relatis unggul. Penentuan donor dengan menyeleksi hewan betina yang memiliki genetic unggul, sehat berumur empat sampai delapan tahun serta memperatikan siklus estrus yang normal (Pineda dan Bowen, 1980; Elsden et. al, 1987; Hahn et. al, 1980, Jillella, 1982)

 

Keberhasilan dari teknik tansfer embrio sendiri sangat bergantung pada (Siti, 2011) :

a.       Donor, sebagai produksi embrio transferable

b.      Resipien, dengan laju kebuntingan tinggi dan konsisten

c.       Prosedur, jadwal, teknik dan peralatan

d.      Sumber daya manusia, harus terampil

 

Dalam pelaksanaan teknik ransfer embrio pada ternak terdapat beberapa masaah dan kendala yang harus di perhatikan diantaranya adalah (Siti, 2011) :

a.       Menentukan ternak donor yang mempunyai kualifikasi yang sangat bagus,

b.      Metode superovulasi serta koleksi embrio yang mudah dan ekonomis,

c.       Evaluasi, seleksi, dan penyimpanan embrio.

d.      Penyediaan resipien, serta

e.       Proses transfer embrio. Kesiapan ternak resipien sangat berpengaruh pada keberhasilan teknologi 

 

Keuntungan yang di dapatkan dari metode TE adaah memperbaiki kemampuan reproduksi hewan betina donor ataupun resipien. Elsden dan saidel (1982) mengemukakan bahwa beberapa keuntungan ai metode TE adalah sebagai berikut :

a.       Memperbaiki interval generasi antara tingkat seleksi dan progeny donor muda.

b.      Mempertinggi kapasitas reproduksi sapi betina induk atau dara.

c.       Memungkinkan memperoleh anak dari hewa betina yang infertile karena penyakit, luka atau oleh sebab lainnya.

d.      Memungkinkan pengembangan anak – anak yang dihasilkan mnjadi donor selanjutnya.

Keuntungan lainya yang di peroleh dari teknologi TE adalah (Anonymous, 1982) :

a.       Dapat diperoleh embrio setiap saat dan tidak terbatas oleh waktu, jarak dan tempat karena embrio dapat disimpan dalam keadaan beku untuk waktu yang lama.

b.      Dapat meningatkan populasi trnak ecara cepat, seragam, dan lebih unggul.

c.       Memperbaiki genetik dengan seleksi akan lebih efektif dan lebih cepat dilakukan.

d.      Penggunaan gena baru dapat cepat dilakukan terutama yang menyangkut resentensi terhadap penyakit.

 

Keuntungan lain dari TE adalah untuk tujuan komersial dengan didapatkanya bangsa – bangasa sapi ekotik dan progeny yang berasal dari sapi yang genetic superior. TE memungkinkan produksi anak – anak sapi yang berasal dari betina infertile dan dara pra pubertas, mengembangkan mekanisme uji progeny pada betina, membangun peternakan superior mengembangkan embrio secara komersial dan memungkinkan kelahiran kembar dan embrio dapat dibawa ke tembpat jauh (Elsden, 1977) dan Jillella (1982) juga menyatakan menyatakan hal yang sama  bahwa tehnik TE dapat memungkinkan terjadinya kebuntingan kebar.

 

Teknik transfer embrio (TE) pada Sapi dan Kerbau awalnya melalui proses laparotomy atau metode surgery (dengan pembedahan) dengan anesthesia umum atau local. Tetapi sejak tahun 1978, dilakukan metode tanpa pembedahan yakni transfer embrio melalui transcervical. (Siti, 2011)

Pengaplikasian Transfer embrio berdasarkan letak CL pada sapi resipien memiliki dua metode yaitu :

1.     Ipsi lateral

Metode ini kebanyakan di gunakan pada TE tunggal atau TE single. Metode ipsilateral dilakukan dengan searah adanya CL di ovarium. Apa bila CL terdapat di sebelah kiri maka embrio di letakkan pada kornua sebelah kiri.

2.      Contra lateral

Metode ini sering di lakukan untuk progeam twins atau kelahiran ganda dengan metode IB – TE. Dimana metode TE contra lateral dilakukan berlawanan dengan adanya CL. Apabila CL di sebelah kiri maka embrio di letakkan pada kornua sebelah kanan. Hal ini dikarenakan di asumsikan bahwa embrio yang dihasilkan pada saat IB terdapat pada ovarium yang memiliki CL. Oleh sebab itu agar tidak mengganggu perkembanggan embrio hasil IB maka embrio dari pelaksanaan TE diletakkan berlawanan.   

Berdasarkan embrio yang digunakan Transfer Embrio memiliki tiga metode yaitu :

 

1.      Transfer embrio segar

Metode ini mengguanak  embrio yang berasal dari sapi donor yang di flusing dan dilakukan seleksi terhadap embrio dan langsung di aplikasikan atau di transfer ke sapi resipien.

2.      Transfer embrio dairec

Metode ini menggunakan embrio yang mengalami frizzing atu pembekuan agar embrio dapat disimpan lebih lama. Embrio yang telah di frizzing harus di simpan pada suhu ± 195 oC. penggunaembrio ini memerlukan dua proses towing yaitu towing udara selama ± 10 detik dan towing menggunakan air hangat dengan suhu  bersuhu 38, 5 oC sampai embrio mencair atau selama ± 10 – 15 detik.

3.     Transfer embrio step wise

 
Metode step wise sering digunakan pada embrio beku yang sudah lama disimpan dan digunakan untuk mengevaluasi daya hidup embrio yang akan digunakan. Embrio beku yang akan dievaluasi di towing terlebih dahulu kemudian diamati mengguanakn mikroskop, bila daya hidup embrio tersebut 50 % maka embrio tersebut dapat di transfer. Setelah dilakukan evaluasi selanjutnya dilakukan kultur selama 5 – 48 jam. Kemudian embrio siap di transfer ke sapi resipien.  

Tahap Pelaksanaan Transfer Embrio 
 

Sebelum leakukan Transfer Embrio harus mempersiapkan alat dan bahan untuk melaksanakan Tansfer Embrio, alat dan bahan yang digunakan adalah :

a.      Alat

Peralatan yang perlu dipersiapkan adalah : Gun TE, spuit 5ml, jarum suntik 18G, sheat TE dan outer sheat, sarung tangan plastik, gunting straw, pinset, termometer, form seleksi resipien, form aplikasi transfer embrio.

b.     Bahan 

Bahan-bahan yang digunakan adalah : embrio, resipien, preparat anastesi (lidocain 2%), kapas alkohol, tissue.

Dalam pengaplikasian Transfer embrio memiliki tahapan – tahapan yang harus di lakukan, tahapan – tahapan tersebut adalah :

a.      Seleksi sapi resipien

Sapi yang akan dijadikan resipien haruslah memenuhi syarat – syarat yang telahdi tentukan sesuai yang telah di bahas di atas. Sapi resipien yang dapat menerima embrio dari sapi donor atau dapat dilakukannya Transfer Emrio, adalah sapi yang telah dilakukan palasi oleh petugas untuk mengetahui ada atau tidak nya CL sebelum di lakukan nya Trasnfer Embrio, ketika CL terdapat pada sapi tersebut baru sapi tersebut dapat di TE.

b.     Anastesi epidural

Anastesi epidural bertujuan untuk pembiusan lokal terutama bada bagian organ reproduksi sapi resipien. Anastesi ini dilakukan dengan mengyuntikkan lidocain 2%, dengan dosisi 2 – 4 ml pada bagian ruas pertama atau ke dua tulang ekor. Indicator bawa anastesi telah berhasil adalah ekor dari sapi yang di anastesi melemas.

c.       Melakukan thawing 

Melakukan thawing embrio dengan cara straw diambil dari kontainer, diamkan di udara/suhu ruang selama 10 detik, kemudian dimasukkan ke dalam air bersuhu 38, 5 oC sampai media terlihat mencair (± 10-15 detik).

d.     Pencatatan label embrio

Pencatan label embrio pada formulir aplikasi TE bertujuan untuk memudahkan dalam pendataan dan mengetahui embrio yang di transfer pada sapi resipien.

e.       Persiapan straw embrio

Straw dikeringkan dengan tissue, potong ujung straw pada bagian sumbat laboratorium kemudian dimasukkan ke dalam gun TE dan tutup dengan sheat TE steril yang dibungkus outer sheat, kemudian dilakukan aplikasi TE ke resipien.

f.        Aplikasi TE

Aplikasi TE dilakukan dengan cara mendeposisikan embrio pada sepertiga depan apex kornua yang terdapat CL (ipsilateral). Menurut Siti (2011) tahapan transfer embrio, mula-mula akan dilakukan palpasi rectal pada resipien untuk mengetahui apakah pada ovarium terdapat Korpus luteum. Selanjutnya dilakukan anesthesia epidural untuk induced to prevent straining selama proses transfer berlangsung. Embrio yang telah disimpan dalam straw (0, 25 ml Straw) dalam keadaan steril dimasukkan kedalam Transfer Gun (Cassou) dan dilindungi dengan plastik penutup yang steril. Langkah selanjutnya Transfer Gun masuk ke dalam vagina dan melalui cervix dengan bantuan tangan operator melalui palpasi rektal akan menuntun Transfer Gun memasuki tanduk uterus bagian ipsilateral.

Komentar